Limbah Mangrove untuk Memperindah Batik

Mangrove merupakan salah satu sumber daya yang ada di Kecamatan Tarumajaya, Bekasi. Mangrove dikenal sebagai tanaman dengan fungsi sebagai pencegah abrasi laut. Selain itu, buahnya juga dapat dimanfaatkan untuk beberapa produk makanan seperti dodol, minuman dan produk lainnya. Namun, tak hanya itu, ternyata limbah mangrove pun masih dapat dimanfaatkan untuk mewarnai batik. Buah mangrove yang sudah tidak dapat tumbuh atau mati lah yang digunakan sebagai bahannya.

Pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan limbah mangrove menjadi pewarna batik diberikan kepada warga Kampung Kebon Kelapa melalui pelatihan pada tanggal 15-20 Juli 2019. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PJB UP Muara Tawar bekerja sama dengan Zie Batik Semarang. Melalui pelatihan ini, kelompok pengrajin batik lokal diharapkan dapat memanfaatkan sumber daya mangrove di desanya menjadi pewarna batik. Selain bisa menekan biaya produksi, penggunaan pewarna alami tersebut juga akan menambah nilai jual dari batik yang dihasilkan.

Dalam pelatihan, para peserta diajari mengenal jenis-jenis pewarna batik berbahan alami yang ada di sekitar kita, diantaranya jelawe, indigo, tingi, tunjung, dan mangrove. Diuraikan juga proses pewarnaan batik dengan bahan alami yang jauh lebih lama dibandingkan dengan proses pewarnaan sintetis.Dari beberapa bahan pewarna alami yang dikenal, pewarna dari mangrove hingga kini belum banyak digunakan oleh perajin batik. Mangrove untuk membuat pewarna batik berasal dari jenis Propagul yang sudah dikeringkan. Bahan ini dapat mengeluarkan warna coklat.

Selain belajar membuat pewarnaan batik menggunakan mangrove, pelatihan juga diisi dengan materi proses pembuatan batik ecoprint. Ecoprint merupakan teknik pemindahan pigmen warna alami daun ke media kain sutra agar menghasilkan pola yang unik. Teknik ini tergolong mudah karena hanya menggunakan dedaunan di sekitar kita, seperti daun jati, daun jarak, daun johar, daun jenetri, daun talok, daun ketapang, dan jenis daun atau bunga yang menghasilkan warna.

Meskipun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat batik ecoprint tergolong mudah, namun penjualan satu lembar kain batik ecoprint mencapai Rp 500.000. Lamanya proses pembuatan dan kreativitas dalam menyusun pola-pola daun menjadi nilai tambah pada pembuatan batik ini.

Para peserta langsung mempraktekkan pembuatan batik ecoprint dan pewarnaan dengan mangrove selama kegiatan berlangsung. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan ragam jenis variasi batik berbahan alami dan ecofriendly. Sehingga, selain dapat menekan biaya produksi, pemanfaatan bahan-bahan alami di sekitar kita sebagai pewarna batik, juga dapat mengurangi pencemaran akibat limbah pewarna batik dan berkontribusi dalam upaya penyelamatan lingkungan.(rhm)