Parenting-Sistering untuk Mempertahankan Kinerja Unggul

 

Bisnis PJB semakin berkembang. Apabila sebelumnya hanya mengelola enam pembangkit listrik di pulau Jawa, saat ini bisnis PJB telah membentang dari Aceh hingga Maluku. Berkah ini tentu membawa tantangan sendiri terkait isu alih generasi dan pengetahuan. Menjawab tantangan tersebut, Kamis (22/11) kemarin Direksi PJB me-launching program pendampingan kinerja pembangkit bertajuk Parenting-Sistering.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Operasi 2 Miftahul Jannah menjelaskan, PJB memiliki Manajemen Aset, yang merupakan metode best practices dalam mengelola pembangkit. Metode tersebut telah teruji di PJB sejak tahun 2006, bahkan telah diadopsi oleh PLN dan anak perusahaan lain. Dengan semakin berkembangnya bisnis PJB dan peralihan generasi, metode tersebut harus tetap terjaga kualitas implementasinya. Dengannya, PJB akan secara riil berkontribusi menyediakan listrik yang murah dan berkualitas bagi masyarakat.

Lebih lanjut Kepala Satuan Kinerja Korporat dan Pengembangan Sistem Manajemen (KSMAN) Adi Setiawan menjelaskan, program parenting-sistering merupakan solusi cerdas untuk mempertahankan pencapaian kinerja unggul. Menurut Adi, kinerja unggul dibangun di atas beberapa elemen yaitu : strategi, sistem, struktur, manusia, dan budaya. Kelima elemen ini akan membentuk siklus tertutup. Satu elemen saja tidak terpenuhi, kinerja yang baik sukar diraih.

“Program parenting-sistering akan menguatkan aspek manusia dan budaya. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan PJB Academy yang juga memiliki program Performance Based Training,” papar Adi yang merupakan project manager pada program parenting-sistering PJB.

Konsep parenting berbeda dengan metode pelatihan pada umumnya. Istilah parenting merupakan konotasi bagaimana Kantor Pusat berperan sebagai “parent” (orang tua) bagi anak-anaknya. Program yang bakal berlangsung selama enam bulan tersebut terdiri atas program pendampingan di lokal, pendampingan jarak jauh, dan juga check point untuk memastikan kualitas implementasi.

Sejumlah kader terbaik PJB diterjunkan ke unit yang akan didampingi. Mereka diminta untuk membaur dengan aktivitas keseharian di unit. Mereka melakukan observasi, apabila ditemukan ketidaksesuaian proses akan langsung diberikan umpan balik perbaikan. Jika diperlukan, para mentor akan membuka kelas khusus layaknya training yang lain.

Para mentor diambilkan dari Kantor Pusat maupun unit berkinerja tinggi. Di sini ada proses transfer knowledge dan budaya kerja yang unggul. Ada benefit pula bagi para mentor karena baik soft maupun hard competences mereka akan diuji. Mereka harus mampu memahami, mengidentifikasi permasalahan, hingga merumuskan jalan keluar yang solutif tanpa mengabaikan kearifan setempat. Metode ini dilakukan untuk meminimalkan retensi.

“Ibaratnya mereka sedang dididik untuk menjadi orang tua yang baik. Pengalaman ini tidak akan didapat kalo para mentor hanya berperan sebagai pengajar training,” tandas Adi.

Fokus pembelajaran meliputi keseluruhan pilar dalam Manajemen Aset, antara lain Reliability Management, Operation Management, Efficiency Management, Work Planning Control, Outage Management, Supply Chain Management, LK3, dan juga pengelolaan energi primer.

Program parenting akan berlanjut dengan sistering. Jika parenting melibatkan interaksi antara orang tua dan anak, maka sistering melibatkan interaksi antara kakak dan adik. Unit dengan kinerja tinggi harus mensupport unit dengan kinerja kurang. Beberapa unit yang mengikuti program parenting akan berlanjut ke sistering, ini akan tergantung keputusan tim pembina di Kantor Pusat.

“Program sistering akan mulai pada tahun 2019, saat ini kami sedang memfinalkan formulasinya. Sebagai penguatan, pelaksanaan sistering akan dihubungkan dengan kontrak kinerja tahunan unit”, pungkas Adi. (qom)