PLTU Tidore, Pembangkit Harapan dari Timur

 

Pembangkit paling timur yang saat ini dikelola PJB adalah PLTU Tidore. Sejak dioperasikan pada 2016, pembangkit berkapasitas 2×7 MW ini memegang peranan penting dalam sistem kelistrikan Maluku Utara, khususnya di Pulau Ternate dan Tidore. Sekitar 35 persen beban puncak disangga oleh PLTU yang menggunakan batu bara berkalori rendah ini. Pemadaman bergilir dapat dihindari, biaya pokok produksi pun turun signifikan. Minggu ini, tim Parenting PJB memulai debut pertamanya di sana untuk memastikan PLTU Tidore dapat terus menerangi masyarakat.

Maluku Utara terbentuk menjadi provinsi baru setelah memisahkan dari Provinsi Maluku pada 4 Oktober 1999. Maluku Utara terdiri atas 1.474 pulau dengan Halmahera sebagai pulau terbesar. Kendati demikian, Pulau Ternate dan Tidore menjadi kota dengan kepadatan penduduk tertinggi. Hal ini tidak terlepas dari nama besar Kesultanan Ternate dan Tidore yang sejak abad ke-15 telah menjelma menjadi pusat kebudayaan nusantara dan aktif berkiprah dalam mengusir penjajah. Ketersediaan tenaga listrik di kedua pulau ini pun menjadi komitmen utama PLN.

Kondisi geografis kepulauan ini cukup menyulitkan dalam membangun sistem interkoneksi. Pembangkit listrik yang ada di sana bersifat mandiri di masing-masing pulau. Sampai tahun 2016, PLN mengelola 259 Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) berbahan bakar minyak yang mahal biaya operasinya. PLTU Tidore tercatat sebagai pembangkit batu bara pertama di regional Maluku dan Papua. Keberadaanya menjadi sangat strategis untuk mewujudkan energi listrik dengan harga yang kompetitif.

PLTU Tidore dibangun oleh konsorsium Shandong Machinery I&E Group Corporation dan PT Rekadaya Elektrika (anak perusahaan PJB) sebagai bagian proyek FTP tahap 1. Dengan total investasi sekitar Rp 283 Miliar, Tingkat Konsumsi Dalam Negeri (TKDN) PLTU Tidore dinilai cukup tinggi, yaitu sekitar 68%. Boiler, trafo, dan sebagian besar peralatan bantu pembangkit, merupakan karya anak bangsa.

Program Parenting merupakan salah satu bentuk komitmen PJB dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan di Indonesia timur. Mulai hari Minggu (25/11), sepuluh kader terbaik PJB dikirim ke pembangkit yang pada gelaran Lomba Karya Inovasi PLN 2018 menyabet juara 2 tingkat nasional tersebut.

Team Leader Eka Setiawan Seputro menjelaskan, masing-masing anggota tim berpengalaman dalam implementasi Manajemen Aset. “Sebagian besar kami ambilkan dari Supervisor Senior unit existing dengan pengalaman kerja minimal delapan tahun. Disamping melakukan pendampingan teknis, mereka diharapkan juga dapat menangkap permasalahan yang bersifat manusia dan organisasi,” papar Eka.

Perjalanan menuju PLTU Tidore cukup menjadi petualangan tersendiri bagi tim. Waktu tempuh pesawat ke Ternate sekitar 3,5 jam dari Jakarta. Setelah mendarat di Bandara Sultan Babullah, tim bergerak ke Pelabuhan Bastiong. Untunglah Pulau Ternate tidak terlalu besar, tidak sampai setengah jam, tim sudah sampai di pelabuhan. Apabila tidak dijemput, pengunjung bisa naik ojek dengan tarif Rp 50 ribu atau “taksi” plat hitam dengan membayar Rp 150 ribu untuk semua tujuan di Ternate. Namun perlu dicatat, sistem transportasi online belum tersedia di sana.

Jarak Pulau Ternate dan Tidore sekitar 4,5 km, sedikit lebih dekat dibandingkan Surabaya-Madura. Namun karena perjalanan menggunakan speedboat, dalam waktu 10 menit sudah sampai ke Pelabuhan Tidore. PLTU berlokasi sekitar 850 m dari pelabuhan. Tarif speedboat per orang adalah Rp 10 ribu. Namun jika tidak sabar menunggu penumpang penuh, tiket bisa dibeli borongan Rp 150 ribu per kapal.

Operator speedboat maupun ojek menjadi pilihan pekerjaan yang banyak diminati warga Tidore disamping berkebun dan nelayan. Kehadiran PLTU Tidore pun disambut antusias oleh masyarakat setempat karena menjanjikan pekerjaan baru yang lebih pasti. Dari seluruh karyawan PLTU, 73 persen diantaranya adalah warga lokal.

“Profesi saya sebelumnya adalah nelayan. Disamping tidak bisa tiap hari pulang, risiko keselamatan sangat tinggi. Saya sangat bahagia bisa bekerja di PLTU Tidore,” ujar salah satu karyawan yang enggan disebutkan namanya.

Manajer PLTU Tidore Aji Rismawanto menjelaskan kinerja PLTU cukup menggembirakan. Angka ketersediaan (EAF) meningkat dari waktu ke waktu. Net Plant Heat Rate (NPHR) juga terus menunjukkan trend penurunan. NPHR menunjukan berapa jumlah energi bahan bakar yang dikonsumsi untuk memproduksi 1 kWh energi listrik. NPHR PLTU Tidore terakhir di kisaran 4500 kCal/kWh. Angka ini cukup baik untuk ukuran pembangkit yang menggunakan teknologi stoker boiler. Atas keberhasilan tersebut, PLN Sektor Maluku memberikan penghargaan kepada PLTU Tidore sebagai unit dengan kinerja terbaik pada semester 1.

Alumni Teknik Mesin Universitas Diponegoro tersebut berharap Program Parenting dapat membantu PLTU Tidore untuk mempertahankan performanya. “Saya tidak ingin keberhasilan PLTU Tidore hanya bersifat kebetulan. Para mentor diharapkan dapat memberi masukan atas penerapan proses bisnis yang kurang sempurna sehingga kesuksesan dapat sustain, selaras antara proses dan hasil,” tandas Aji.

Program Parenting dimulai dengan proses observasi. Selepas opening meeting, tim mentor langsung menyebar ke setiap pemilik proses. Mereka mengikuti aktivitas keseharian karyawan PLTU Tidore, mengamati cara kerja mereka dan berdiskusi jika diperlukan. Pengamatan ini harus dilakukan secara bijak agar tidak mengganggu pekerjaan. Agar kompetitif, organisasi PLTU Tidore memang didesain lebih ramping dibanding pembangkit besar di Jawa. Sejam saja mereka terganggu bekerja, akan sangat berpengaruh ke produktivitas. Gap yang ditemukan selama observasi dibahas dalam tim untuk dirumuskan metode pendampingan yang sesuai.

“Apabila gap cukup kecil, pendampingan cukup dengan diskusi. Namun jika ada permasalahan pada aspek filosofi, kami akan membuka sesi kelas,” jelas Eka yang sehari-harinya menjabat Manajer O&M PT PJB Services.

Beberapa kelas pendampingan akhirnya dibuka untuk lebih mempertajam pemahaman filosofi. Suasana cair dan bersahabat nampak dalam in class training berformat lesehan. Meski awalnya lebih karena keterbatasan ruang, metode tersebut ternyata membuat proses pembelajaran lebih efektif.

Parenting tahap pertama berakhir Jumat (30/11) kemarin. Saat closing meeting disampaikan rekomendasi yang harus dilaksanakan PLTU Tidore sampai periode kunjungan berikutnya. Eka, yang baru saja menamatkan tugas belajar S2 di Teknik Mesin ITS, menjelaskan, hal prinsip yang membedakan Program Parenting dan pelatihan pada umumnya adalah pada komitmen pasca program. Tiga bulan selepas kunjungan kali ini, tim lain akan diterjukan untuk memotret tindak lanjut. Selanjutnya akan disusun pendampingan lanjutan untuk meningkatkan kinerja PLTU Tidore secara kontinyu. Progam Parenting minggu depan akan berlanjut ke PLTU Pacitan, PLTMG Arun, dan PLTU Kendari. Keseluruhan program ini didedikasikan PJB untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. (qom)