Study Banding Pengelolaan Sampah

Sampah seringkali menimbulkan masalah dalam kehidupan masyarakat. Pengelolaan sampah yang buruk dapat menimbulkan bahaya banjir dan memicu munculnya penyakit. Persoalan sampah juga dialami masyarakat ring 1 PT PJB BPWC. Masih ada sampah yang dibuang sembarangan sehingga berpotensi menyumbat saluran air dan mencemari Waduk Cirata.

 

BPWC kemudian menggerakan karang taruna, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan Ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk berperan aktif dalam pengelolaan sampah. Selain memberikan penyuluhan dan pelatihan, mereka juga diajak study banding sebagai bagian dari pembelajaran.

 

Study banding dilakukan di Kampung Jatibaru Rw 17, Desa Jati Endah Kec. Cilengkrang, Bandung pada Rabu (13/12). Kegiatan di desa yang telah berhasil mengelola sampah itu diikuti oleh perwakilan dari Desa Sirna Galih, Desa Ciroyom dan Desa Cirahashas. BPWC bersinergi dengan Senyum Untuk Negeri (SUN) Foundation dalam study banding ini.

 

Kedatangan rombongan disambut dengan baik oleh warga setempat. Pada sambutan pembukaan, Rizki Tri Pamungkas selaku SPV Senior Pengamanan Aset dan CSR BPWC memuturkan pentingnya menjaga lingkungan. Ia mengharapkan agar peserta dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari masyarakat dan kader-kader di wilayah Kampung Jatibaru. Dimana ilmu tersebut kemudian dapat diimplementasikan di wilayah masing-masing.

 

Sementara itu Nining sebagai ketua KWT sekaligus penggiat lingkungan menjadi wakil Kampung Jatibaru dalam menerima study banding. Wanita dengan 19 penghargaan yang telah diperoleh bersama tim desanya itu memaparkan berbagai hal terkait pengelolaan sampah di wilayahnya.

 

Selain penjelasan di dalam ruangan, para peserta juga diajak keliling desa untuk melihat pemberdayaan yang dilakukan. Diantaranya pemberdayaan tanaman sayur dan toga di rumah penduduk dengan memanfaatkan pupuk dari pengolahan sampah setempat. Mereka juga melihat pusat olahan produk binaan berupa makanan ringan, kopi dan pernak pernik oleh-oleh khas wilayah setempat.

 

Di rumah kelola organik atau biasa disebut dengan bank sampah, peserta diajarkan bagaimana mengelola sampah. Pengelolaan dimulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik hingga membuat sampah menjadi kerajinan tangan, bahan bakar gas dan sumberdaya listrik. Kegiatan itu dapat menghasilkan uang, yang kemudian diputar kembali menjadi pemasukan untuk pengelolaan dan pengembangan fasilitas rumah kelola organik serta untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

 

Kegiatan diakhiri dengan kunjungan pada Posyandu. Di tempat ini dilakukan penutupan dan sesi foto bersama.(rik)